Hukuman Mati Terpidana Narkoba Asal Pakistan

Hukuman Mati Terpidana Narkoba Asal Pakistan – Zulfiqar Ali, warga negara Pakistan ini adalah terpidana mati persoalan narkoba. Ia divonis bersalah serta dijatuhi hukuman mati pada th. 2005 di PN Tangerang.

Saat itu, hakim menilainya Zulfiqar bisa dibuktikan ikut serta persoalan penyelundupan 300 gr heroin. Zulfiqar sendiri sudah di tangkap di tempat tinggalnya Vila Tugu Cisarua, Bogor, pada 21 November 2004 yang lalu.

Dalam perjalanannya, Zulfiqar menanggung derita penyakit jantung, tidak berhasil ginjal serta komplikasi penyakit yang lain sampai mesti dirawat dirumah sakit. Namanya sempat masuk daftar eksekusi mati pada 2016 kemarin.

Ia juga pernah dipindah dari RSUD Cilacap menuju ke Lapas Batu Nusakambangan untuk pelaksaan eksekusi. Saat itu, keadaannya dimaksud sudah stabil.

Perpindahan itu dikerjakan pada Senin (25/7/2016) yang lalu. Dengan kursi roda, Zulfiqar dibawa ke luar dari RSUD Cilacap seputar jam 11. 00 WIB. Dia dikawal ketat personel Brimob serta Polres Cilacap dan petugas LP.

Tak sepatah kata juga keluar dari bibir pria berjenggot itu. Matanya tampak berkaca-kaca.

Memahami Zulfiqar masuk daftar terpidana yang akan dieksekusi. Pengacaranya, Saut Edward Rajagukguk langsugn menuju Cilacap untuk membawa surat terkait permintaan pengampunan hukuman dari presiden yang tengah diserahkan.

” Saya sekali lagi menuju Cilacap untuk membawa satu lembar surat, di mana surat ini tertanggal 20 Juni 2016 kalau surat saya ke Presiden Jokowi, di situ dibalas lewat Mensesneg, kalau client saya itu sebetulnya masih tetap punyai hak untuk kemukakan pengampunan hukuman dari presiden, ” kata Pengacara Zulfiqar, Saut Edward Rajagukguk sementara dihubungi detikcom, Selasa (26/7/2016) malam.

Singkat narasi, pada Juli 2016, eksekusi mati Zulfiqar dipending. Ada bermacam spekulasi sekitar penundaan itu.

Salah satunya masalah surat dari Presiden RI ke-3 BJ Habibie ke Presiden Jokowi. Berisi penolakan eksekusi mati atas Zulfiqar serta moratorium eksekusi mati. Surat ini lalu menebar luas.

Hal tersebut disikapi oleh Jaksa Agung HM Prasetyo. Ia menjelaskan penundaan itu sudah dikerjakan lewat pertimbangan dari beragam pihak.

” Saya telah katakan segala perihal yuridis serta non yuridis kita cermati serta pikirkan kita tidak khusus demikian, ” kata Prasetyo di kantornya, Jalan Sultan Hasanuddin, Jaksel, Jumat (29/7/2016).

” Saat dieksekusi, Jampidum jadi kepala tim di lapangan memberikan laporan kalau dari pengkajian dengan pihak berkaitan, nyata-nyatanya dari hasil pengkajian itu, 4 orang itu yang butuh dieksekusi mati awal hari barusan, 10 juga akan ditetapkan lalu, ” sambung Prasetyo.

Diluar itu, Sekretaris Kabinet Pramono Anung menuturkan surat dari Habibie supaya Jokowi meninjau kembali putusan eksekusi mati Zulfiqar jadi perhatian pemerintah. Dikatakan Pramono, terkecuali dari Habibie, Jokowi banyak juga terima input dari negara beda.

” Sebetulnya tidak cuma dari Pak Habibie, Komnas Wanita, juga dari beragam negara-negara juga memberi input kepada hal tersebut (eksekusi mati), ” kata Pramono Anung di kantornya, Gedung Sekretariat Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Jumat (29/7/2016).

Sampai th. 2018, kapan eksekusi Zulfiqar juga belum juga tahu kapan akan dikerjakan. Salah satunya karna permintaan pengampunan hukuman dari presiden yang masih tetap diolah sampai Presiden Pakistan Mamnum Husaain yang memohon segera pada Jokowi untuk berikan pengampunan pada Zulfiqar.

” Kasus Zulfiqar ini telah masuk ke KSP serta memohon sikap Presiden. Yang tentu, kita telah memberi input dengan khusus untuk menjawab apa yang dituntut oleh pemerintah Pakistan, ” kata Tenaga Paka Paling utama Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Ifdhal Kasim di kantor KSP, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (30/1/2018) kemarin.

Belum juga terwujud eksekusinya, berita mengagetkan juga datang. Zulfiqar wafat pada Kamis (31/5/2018) di Tempat tinggal Sakit Medistra Kuningan.

Saat ini, pemakamannya masih tetap menanti anaknya tiba dari Pakistan. Pemakaman gagasannya dikerjakan hari ini, Sabtu (2/6/2018) di Bogor, Jawa Barat.